“Nurani” Kembali Meriahkan Pagelaran Festival Nasional Wisran Hadi

PADANG, 29/04/2018

Jumat malam, 28 April 2018, hari ke-enam dari pagelaran Festival Nasional Wisran Hadi (FNWH), kembali menghadirkan pementasan dengan judul naskah “Nurani” yang dibawakan oleh Teater Nol Universitas Syah Kuala Aceh. Pementasan tersebut disutradarai oleh Mumu.

Ini adalah yang kedua kalinya pementasan “Nurani” dibawakan setelah sebelumnya juga dibawakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Batra Universitas Riau pada hari sebelumnya. Dan sama dengan pementasan sebelumnya, pementasan “Nurani” kali ini juga berhasil mencuri perhatian penonton yang berada di Medan Nan Balinduang malam itu. Walaupun dari penghadiran konsep dipanggung yang tidak jauh berbeda dengan pementasan sebelumnya, tapi penawaran dari setiap aktor yang bermain sangat terlihat memberikan faktor pembeda terhadap pementasan sebelumnya.

Hal ini disampaikan ketika memasuki sesi diskusi setelah pementasan bersama Pinto Anugrah. Menurutnya, ketika ada dua pementasan yang menghadirkan naskah yang sama maka secara tidak langsung pikiran penonton akan tertuju pada membandingkan dua pementasan tersebut. “Hal tersebut tidak mungkin dapat dielakan, bagaimana penonton melihat pementasan sebenarnya bukan maksud mau membanding-bandingkan tapi begitulah kenyataannya jika ada naskah yang sama. Seperti kenapa Ibu Dosen disini mirip dengan Ibu Haji pada sebeblumnya,” papar Pinto saat memulai sesi diskusi.

Mumu selaku sutradara menjelaskan bahwa konsep yang ia hadirkan pada pementasan tersebut adalah konsep nonrealis. “Jadi setiap gerakan, tiap dialog, musik, pencahayaan itu saya buat punya motivasi. Saya juga coba kolaborasi antara kostum, musik dibalut dengan khas Aceh,” jelas Mumu pada penonton malam itu.

Tanggapan pertama datang dari Putri anggota dari Teater Besurek Bengkulu. Putri mempertanyakan konsep sutradara dalam menghadirkan warna pada kostum yang digunakan oleh aktor dan penghadiran sosok Nurani yang tidak sesuai posisinya di panggung. “ Disini kan ada tiga aktor yang berkostum warna merah, kuning, hijau, sama seperti pementasan “Malin Kundang” apakah ada maksud dari warna warna tersebut? Lalu kenapa karakter Nurani yang dinampakan malah tertutup oleh posisi bangku yang ada di depannya?” tanya Putri.

Mumu menjelaskan kenapa pada konsep pemilihan kostum mengambil warna-warna merah, kuning, dan hijau. “Aku di sini sengaja menghadirkan warna tersebut, itu merupakan warna khas dari Aceh dan warna-warna tersebut menyimbolkan warna-warna keagungan. Untuk pertanyaan kedua, aku sengaja membuat Nurani berada di belakang karna saya ingin menghadirkan Nurani ini hanya sebagai suara saja dan itu mendukung konsep nonrealis yang saya hadirkan,” jawab Mumu menanggapi pertanyaan Putri.

Apresiasi datang juga dari Rizki. Menurutnya, pementasan “Nurani” pada malam itu menunjukan kinerja sebagai seorang sutradara. “ Menurut saya pementasannya bagus, terlihaat sekali kerja sutradara di sini. Aktor-aktor memberika penawan baru dan menjadi pembeda dari pementasan sebelumnya, tapi yang ingin saya tanyakan adalah pemilihan konsep nonrealis seperti apa yang ingin dihadirkan oleh sutradara karna ada batas-batas yang sangat jelas akan hal tersebut,” ungkap Rizki yang merupakan mahasiswa dari ISI Padang Panjang.

Mumu sedikit bingung dengan pertanyaan Rizky mengenai konsep nonrealis seperi apa yang ia hadirkan pada pementasan tersebut. “Kalau secara ilmu saya kurang paham karna keilmuan saya memang bukan dari teater, untuk non realis seperti apa saya kurang paham tapi sebelum datang pada acara ini saya sudah belajar dan memperbanyak referensi mengenai pementasan teater,” ungkap Mumu.

“Saya sebagai sutradara dari Teater Nol mengucapkan terimakasih karna dapat berpastisipasi dalam acara bertaraf nasional seperti ini, yang telah menambahkan banyak pelajar bagi kami sebagai pegiat Teater Kampus,” tambah Mumu sekaligus menutup diskusi pementasan tersebut.

Festival Nasional Wisran Hadi hanyak meninggalkan satu hari lagi. Yaitu, Minggu 29 April 2018, yang akan diisi dengan jalan sehat pada pagi harinya kemudian dilanjutkan malam pukul 20.00 WIB nanti akan ada Orasi Kebudayaan yang disampaikan oleh Ibu Puti Raudha Thaib. Dengan tema segala hal tentang Wisran Hadi, Ibu Puti Raudha Thaib akan menceritakan sosok Wisran Hadi di mata keluarga. Dan setelah itu akan ada sebuah pertunjukan terakhir sekaligus penutup dari pagelaran Festival Nasional Wisran (FNWH) yaitu pementasan “Mandi Angin” karya Wisran Hadi yang disutradarai oleh Bapak Syafril (Prel T)

 

*Teater Langkah – Putra Metri